Aceh Darussalam mempunyai banyak peninggalan naskah-naskah kuno yang sangat berharga, yang dikarenakan oleh tsunami pada tahun 2004 mengalami banyak kerusakan dan bahkan sebagian besar hilang. Sebagai contoh: kumpulan koleksi Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) hilang terbawa oleh air sama sekali. Naskah-naskah yang dapat diselamatkan adalah merupakan bagian terakhir pustaka tertulis peninggalan sejarah dan budaya Aceh yang untuk dunia pernaskahan dan juga dari sudut emosional mempunyai harga yang tak bisa dinilai dengan apapun.
Menurut tradisi Aceh banyak keluarga berusaha untuk menyimpan beberapa naskah bersejarah untuk mewariskannya ke generasi-generasi berikutnya secara turun-temurun. Akibat bencana tsunami, di samping banyak rumah yang hancur juga harta peninggalan budaya tersebut musnah untuk selamanya. Dengan kehilangan begitu banyak naskah tersebut maka semakin berharganya sisa naskah-naskah yang dapat diselamatkan.
Kondisi dan keadaan penyimpanan naskah-naskah boleh dikatakan masih sangat sederhana, provisoris dan sering tidak memenuhi standar penyimpanan yang sebenarnya harus menjamin terlindungnya naskah-naskah tersebut dari kerusakan. Kerusakan-kerusakan itu dapat disebabkan oleh iklim tropis, jamur dan rayap. Karena itulah naskah-naskah sedang berada dalam bahaya akut. Jalan keluar yang paling optimal adalah menyelamatkan naskah-naskah tersebut dengan melakukan digitalisasi di samping restorasi, untuk sedapat mungkin mengadabikannya dan menunjukkannya generasi-generasi mendatang.
Dalam rangka pembuatan digitalisasi tersebut juga bisa dilakukan sebuah katalogisasi secara kodikologis yang juga harus disertai dengan langkah-langkah pembuatan restorasi seperti penghancuran jamur, pengurangan kelembaban kertas dan menetralisasikan akibat tinta agresif. Selain itu perestorasian juga bertujuan untuk menyiapkan proses digitalisasi, seperti pembukaan halaman-halaman yang melekat, penjilidan yang terlalu kaku dan perbaikan halaman-halaman yang sudah mendapat bolong-bolong atau mendekati kerusakkan.
Universitas Leipzig mempunyai pengalaman yang cukup lama dalam bidang pendigitalisian dan pengkatalogisasian dokumen-dokumen bersejarah. Terutama yang patut disebutkan adalah Proyek Papirus (http://papyri.uni-leipzig.de) dan Proyek Digitalisasi Naskah-Naskah Islam di Perpustakaan Universitas (www.islamic-manuscripts.net). Melalui sebuah database dalam Internet para peneliti dan penggemar papirus-papirus dan naskah-naskah dari seluruh dunia mendapatkan akses secara cuma-cuma untuk semua dokumen. Proyek penyelamatan naskah-naskah peninggalan Aceh ini berlandaskan atas dasar-dasar teknologi dan konsep-konsep proyek terdahulu tersebut. Terima kasih banyak!
Syarat-syarat yang paling mendasar untuk semua kegiatan dalam bidang pernaskahan di Aceh adalah baik melalui transfer know-how maupun penyediaan peralatan teknis yang canggih. Dengan memperhatikan banyaknya jumlah naskah-naskah dan cepatnya waktu yang berlalu, maka dipilihlah sebuah alat scanner yang benar-benar mampu mendigitalisasi naskah-naskah dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang singkat.
Walaupun proyek ini didanai oleh Departemen Luar Negeri Jerman, tetapi masing-masing tahap direalisasikan langsung oleh tenaga ahli-tenaga ahli Indonesia sendiri. Departemen Luar Negeri Jerman bersedia untuk mendanai proyek tahap pertama dari 1 Januari sampai 31. Desember 2008 dan proyek tahap kedua sedang dalam proses permohonan.
|
Keterangan fisik
|
Ringkasan isi
|
| Nomor inventaris | Pengarang |
| Jumlah jilid / Naskah kumpulan | Tanggal kematian |
| Bahasa | Referensi bibliografis |
| Penjilidan | Judul |
| Bahan tulis | Tema |
| Hiasan buku dan cap air | Status kelengkapan |
| Jumlah halaman | Eksemplar lain dan/atau edisi |
| Ukuran naskah | Isi (ringkasan) |
| Ukuran bagian teks | Catatan/komentar yang terdapat dalam naskah |
| Jumlah garis dan kolom | |
| Alihan | |
| Jenis khat | |
| Informasi tentang penyalinan | |
| Catatan kepemilikan |
| Impresum |